h1

BALI: Banyak Libur!

14 Januari 2008

Ketika SMA seorang teman mengenakan kaos yang diproduksi sebuah perusahaan kaos di Bali; mereknya sudah cukup terkenal. Bagian depan kaos tersebut bertuliskan BALI: Banyak Libur. Waktu itu saya sempat berpikir, apa makna tulisan tersebut? Bali: Banyak Libur! Sebatas singkatan atau candaan atau apa. Namun saya tidak terlalu jauh berpikir bahwa Bali adalah tempat pariwisata. Dengan kata lain wisata identik dilakukan oleh orang-orang yang sedang libur atau orang yang punya waktu luang untuk berlibur-berwisata. Tidak sampai sejauh itu. Terlalu lemah otakku dapat mengaitkan satu kasus dengan kasus yang lainnya.
Sekian lama tulisan tersebut mengganjal dalam onak saya. Namun sebatas mendekam. Tidak saya pikirkan. Laiknya sebuah memori yang datang silih berganti, tanpa kita ingini. Dan ketika saya kuliah di Bali, tulisan tersebut segera terjawab. Tentunya bukan sebuah kesengajaan; aku kuliah di Bali sebatas ingin tahu arti kata tersebut. Tidak. Dan justru hingga kini aku sendiri belum mengerti, mengapa saat umptn saya memilih salah satu ptn di Bali. Dan mungkin teman-temanku jauh lebih banyak punya jawaban untuk memprediksi pilihan Bali-ku itu. Maklum waktu SMA “Bali” pernah begitu dekat, setidaknya ingin begitu dekat dalam hidup saya. Setidaknya saat itu.
Bali memang banyak libur. Ungkapan atau istilah tersebut tidak salah. Hal ini dirasakan oleh banyak orang yang tinggal di Bali, tidak terkecuali saya sendiri. Bila anda pernah tinggal di Bali untuk beberapa lama pasti (akan) merasakannya. Saya jamin itu. Terlebih bila anda sekolah atau bekerja pada instansi pemerintah. Mungkin kecuali yang bergerak pada sektor pariwisata aja yang tidak merasakan, setidaknya tidak mengindahkan. Karena setiap hari di Bali tetap saja ada wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Kalau mereka libur akan mengurangi pendapatan serta pelayanan.
Kalender Bali
Sebelum tahu mengapa Bali: Banyak Libur, sebaiknya mengenal dulu dengan kalender. Bukankah libur dan tidak sangat berhubungan dengan kalender. Bali: banyak libur. Tidak ada yang salah dengan kalimat atau singkatan tersebut. Hal tersebut dapat terlihat pada sistem penanggalan atau kalender di Bali. Tidak salah, seorang temanku pernah mengirimkan tulisan untuk rubrik Sungguh-Sungguh Terjadi di Kedaulatan Rakyat, Yogyakarta. Temanku itu menuliskan bahwa tanggal yang paling lengkap adalah kalender Bali. Mau bukti? Coba lihat aja. Selain memuat tanggalan nasional-internasional (Masehi), juga terdapat penanggalan Jawa, penanggalan China, penanggalan Hijriah (Islam), penanggalan Bali, dan beberapa kalender terdapat penanggalan Jepang. Selain penanggalan juga terdapat beragam keterangan yang sangat bermanfaat bagi masyarakat Bali sendiri maupun secara nasional. Misalnya terdapat penanggalan tentang hari-hari besar agama (natal, idul fitri, galungan, waisak, dsb), hari-hari peringatan yang ditetapkan pemerintah (hari proklamasi, hari pendidikan, hari kartini, hari ibu, dsb), juga beberapa kalender juga terdapat keterangan tentang hari-hari peringatan yang berlaku secara internasional (hari aids sedunia, hari tanpa tembakau, hari lingkungan hidup sedunia, dsb). Dan yang sangat berbeda dengan penanggalan nasional adalah terdapat keterangan-keterangan tentang hari-hari besar agama Hindu atau bagi masyarakat Bali yang tidak terdapat pada kalender nasional. Misalnya hari pagerwesi, hari raya kuningan, hari raya nyepi, tahun baru caka, dan hari-hari lainnya yang masih cukup banyak.
Tidak hanya itu. Pada kalender Bali umumnya juga mencantumkan keterangan atau tanggal-tanggal odalan pura-pura yang berpengaruh di Bali. misalnya odalan Pura Sakenan, odalan pura Besakih, odalan pura Tanah Lot, dan sebagainya. Tidak ketinggalan, bahwa pada penanggalan Bali juga terdapat keterangan tentang Dewasa Ayu (hari baik) untuk aktivitas manusia yang berdasarkan pada perhitungan skala dan niskala (yang tampak secara realitas-rasio dan yang ghaib secara religius-spiritualitas). Selain Dewasa ayu tersebut juga ada zodiak Barat, China, juga Bali-Jawa Kuno yang coba mengaitkan perwatakan, peruntungan, nasib orang dengan tanggal dan atau hari lahir. Dan keterangan-keterangan lainnya.
Bali: banyak Libur
Dan fungsi kalender bukan saja mengenalkan manusia pada angka untuk menghitung usia semata; muda, tua, anak-anak, dan sebagainya, namun juga menjadi penunjuk aktivitas yang harus atau sebaiknya dikerjakan oleh manusia. Kalender laiknya kompas; menunjukkan arah kemana harus melangkah. Kalender adalah rentetan jadwal aktivitas. Kalender dengan ragam perwajahan/kover dan ragam bentuk bukan lagi angka-angka mati yang tidak berarti. Tidak saja bagi masyarakat tradisional yang penuh dengan aktivitas religiusitas, namun juga bagi masyarakat liberal, komunis, atheis dengan momentum liberalnya. Kalender dengan kover diri Dian Sastro atau Britney Spears bukan sebatas tempelan dan hiasan dinding atau meja.
Untuk kalender masyarakat Bali di Bali dan beberapa daerah lainnya tidak hanya menggunakan kalender nasional saja, tapi juga kalender yang berbasiskan pada lokalitasnya. Untuk lokalitas masyarakat Bali yang digunakan adalah kalender Bali.
Seperti disebutkan di atas, bahwa kalender bukan hanya tempelan angka-angka, namun juga kumpulan aktivitas yang harus dikerjakan. Sebagai warga Republik Indonesia tentu saja menggunakan kalender nasional. Masyarakat Bali mengikuti perintah atau momentum yang dicanangkan atau ditetapkan oleh pemerintah. Misalnya kapan mulai ujian akhir nasional, kapan libur natal, berapa hari libur lebaran, kapan cuti bersama. Tanggal-tanggal insidental yang telah ditetapkan pemerintah berlaku secara nasional.
Kemudian masyarakat Bali juga bersandar pada kalender Hindu-Bali. Kalender-kalender tersebut juga punya momentum-momentum di mana manusia Bali harus mengikutinya. Pemerintah daerah Bali telah menetapkan beberapa hari sebagai momentum bagi masyarakat Hindu-Bali. Salah satu bentuk ketetapan tersebut adalah dengan dijadikan sebagai hari libur. Beberapa penanggalan momentum tersebut ada yang sifatnya wajib dilaksanakan ada pula yang sifatnya fakultatif; pilihan. Misalnya pada hari Galungan, Pagerwesi, Saraswati, dan beberapa (rerainan) hari raya Hindu-Bali lainnya. Selain hari-hari besar agama yang ditetapkan oleh pemda juga terdapat hari-hari peringatan yang dilakukan secara fakultatif; oleh sekolahan, kampus, pura, dsb.
Maka tidak mengherankan bila di Bali banyak liburnya; selain ikut libur dalam kalender nasional juga ikut libur lewat kalender Bali. Dua kalender berlaku secara bersamaan.
Mau di Bali?
Denpasar. 2008 [re]

2 komentar

  1. that,s no 100% false…but the unique culture in difference of the state….state of art


  2. keunikan budaya itulah yang membuat wisatawan ingin berkunjung ke Bali, selain dengan alamnya.

    Visit: http://www.tanahlot.net



Tinggalkan sebuah Komentar