h1

Referensi Perempuan Ideal

14 Januari 2008

arzeti, salah satu model indonesia

Kembali Pemilihan Putri Indonesia (PPI) diselenggarakan oleh PT. Mustika Ratu -sebuah perusahaan yang bergerak dalam dunia kecantikan- untuk yang kesekian kali di muka bumi Indonesia ini. Pada acara tersebut masyarakat Indonesia dapat menyaksikan dara-dara yang cantik, tinggi semampai, murah senyum, pandai berbahasa Inggris, dan (mungkin) cerdas berjejer. Hampir tidak ada yang tidak cantik. Putri-putri tersebut datang dari berbagai penjuru wilayah di tanah nusantara ini. Dengan bermodalkan `kecantikan` mereka berbondong-bondong datang ke Jakarta untuk `mencoba` memperebutkan gelar khusus, yaitu sebagai `Putri Indonesia`.Pemilihan putri-putri cantik seperti ini bukanlah satu-satunya kontes yang ada di dunia, namun telah merambat dan menular hampir keseluruhan negara-negara yang tersebar di benua Amerika, Australia, Eropa, Afrika, dan juga Asia; di dalamnya termasuk Indonesia. Hal serupa juga diselenggarakan di tingkatan provinsi (misal di DKI Jakarta ada Abang-None), bahkan kabupaten. Bisa dikata acara-acara semacam ini adalah sebuah rangkaian kegiatan yang menyatu. Mereka adalah kontestan yang telah mengikuti kontes-kontes pada level-level sebelumnya dan telah dikukuhkan sebagai pemenangnya. Mulai dari tingkat kabupaten/kotamadya, provinsi, kemudian nasional. Dan Miss Universe – yang pertama kali digelar pada tahun 1952 di Amerika sebagai sebuah strategi iklan, adalah puncak tertinggi `pemilihan putri tercantik` di dunia. Pada acara tersebut akan terkumpul perempuan-perempuan tercantik di negara-negaranya. Bagi para kontestan, mengikuti acara seperti ini akan menjadi sebuah kebanggaan, karena dirinya mewakili/termasuk `perempuan tercantik`.
Ada tiga syarat yang harus dipenuhi oleh para kontestan untuk dapat mengikuti PPI ini, yaitu brains, beauty, dan behavior (Cerdas, Cantik, dan bertingkah laku baik) (Jawa Pos, 31/7/2004). Jadi tidak hanya memilki kecantikan secara luarnya (fisik) saja, namun harus dilengkapi oleh kecantikan dari dalam (inner beauty). Di muka bumi ini, siapa yang tidak menginginkan perempuan seperti itu? Tidak hanya kaum lelaki saja untuk dijadikan istri, tapi juga para orang tua.
Perempuan dan Kaum Pesolek
Selama ini selalu kita dengar gembar-gembor diskriminasi gender yang dialami oleh kaum perempuan di dunia, khususnya Indonesia. Perempuan dalam kehidupan sehari-hari masih dijadikan subkultur, sedang kaum laki-laki adalah dominan. Terlebih masyarakat Indonesia yang kebanyakan menganut sistem patrilineal; selalu menguntungkan kaum laki-laki dan melemahkan kaum perempuan. Mulai dari segi pendidikan, pekerjaan, pembagian peran, dll-nya kaum perempuan selalu dinomor-duakan oleh budaya yang melingkupinya.
Namun menjadi sesuatu yang ironis ketika kita menyaksikan ritual pemilihan putri Indonesia yang setiap tahunnya diselenggarakan oleh pihak-pihak tertentu. Di sana kita dapat menyaksikan kaum perempuan sendiri sedang `menguatkan dan mengukuhkan` dirinya sebagai kaum pesolek. Adalah menjadi tuntutan ketika seseorang mengikuti kontes pemilihan putri Indonesia harus cantik. Sebuah kecantikan –dalam acara ini- tentulah harus dipoles oleh beragam alat kosmetik yang tersebar di pasar, swalayan, bukan suatu kecantikan yang alami, yang sebenarnya sudah cantik. Acara ini tidak menutup kemungkinan adalah sebuah strategi iklan untuk menjual barang-barang kosmetik PT. Martha Tilaar, seperti yang dilakukan oleh pendahulunya Perusahaan Catalina Swimsuits dengan Miss Universe-nya. Perempuan kembali diusik untuk meribetkan diri dengan hal-hal –maaf- sepele. Misalnya tata rias wajah, rambut. Juga bentuk tubuh yang harus ramping, langsing, seksi.

Kontes pemilihan putri Indonesia adalah kontes kesempurnaan yang harus dikejar dan dimiliki oleh kaum perempuan. Dan yang menjadi korban adalah masyarakat. Mengapa masyarakat? Karena melalui acara tersebut masyarakat diberikan gambaran-gambaran yang dijadikan referensi dalam kehidupan sosial. Masyarakat dapat memilah dan memilihnya agar mengimitasi gaya dan rupa mereka agar dianggap cantik. Tidak sekadar cantik, tapi cantik yang ideal. Karena kecantikan-kecantikan yang ditonjolkan tidak sebatas tataran wajah saja, tapi juga bentuk tubuh. Maka sangat beruntung bila perempuan memiliki ciri-ciri yang dimiliki laiknya para kontestan tersebut. Dan bagi yang tidak (misal bertubuh gemuk) akan berlomba-lomba menurunkan berat tubuhnya di tempat-tempat fitnes, mengikuti senam body language serta bersaing merias diri di salon-salon kecantikan. Bahkan tidak menutup kemungkinan untuk melakukan operasi plastik dengan merubah struktur muka, warna kulit. Hanya untuk satu tujuan, dianggap cantik.
Kecantikan dan Karir
Dalam kehidupan sosial di masyarakat akan lahir sikap penilaian mana yang cantik dan tidak. Hal ini dapat menyebabkan rasa minder perempuan-perempuan yang dilahirkan tidak seberuntung perempuan-perempuan itu. Juga menyangkut dalam soal mencari kerja. Perempuan cantik selalu dinomor-satukan dalam mengisi ruang-ruang kosong lowongan pekerjaan, dibandingkan yang tidak. Seperti dapat kita saksikan dalam telenovela Betty. Tokoh Betty dianggap tidak memenuhi syarat sebagai sekretaris, karena satu hal, tidak cantik meski secara kemampuan hebat.
Bagi dara-dara dengan mengikuti kontes pemilihan putri Indonesia merupakan lahan bagus dan potensial untuk merangkai dan menuai karir, khususnya di dunia entertaint. Tidak sedikit mantan kontestan pemilihan putri Indonesia terjun atau langsung ditawari karir dalam dunia entertaint. Misalnya sinetron, model, dan presenter, karena mereka mempunyai wajah-wajah fotogenic. Seperti dapat kita nikmati dalam sinetron yang sedang berkembang saat ini. Sinetron-sinetron kita dipenuhi dan dibanjiri dengan artis-artis yang jualan wajah-wajah yang sedap dipandang. Artis-artis perempuan sinetron kita banyak berangkat dari dunia cover girl, model sampul, dll-nya yang jelas-jelas hanya jualan tampang cantik dan fotogenic.
Bagaimana mungkin kesetaraan gender akan tercapai, sedang kaum mereka sendiri malahan mengukuhkan kembali hal-hal yang menghambatnya. Atau mungkin kaum perempuan itu hanya hiasan yang memamerkan tubuhnya saja? Seperti dapat kita nikmati dalam pemilihan putri Indonesia ini, yang memajang perempuan-perempuan cantik. Karena satu syarat (brains) dari tiga syarat yang ditentukan tidaklah menonjol atau pun ditonjolkan. Mereka lebih berkutat pada beauty-nya saja. Dan pada akhirnya mereka adalah ‘Duta Kecantikan Indonesia’.

Denpasar. 2004 [re]

2 komentar

  1. bagus sekkkkkkkali


  2. paling cantik dan sopan diantara model dan clean



Tinggalkan sebuah Komentar