Bersama Tomo aku datang pada sebuah acara bedah buku Budaya Kekerasan dan Budaya Kepintaran karya IBM Palguna, intelektual kelahiran Bali yang kini tinggal di Mataram, (19/01). Kebetulan Tomo hendak performance untuk turut memeriahkan acara yang diselenggarakan di Taman 65, Jl. WR. Supratman 193 tersebut. Sekalian aku numpang Lifan-nya. Selain Tomo ada juga Yonas dan kawan-kawan, Abu Bakar dan Iin, dan Raspito (atau Respito? Atau?) grup band dari Jakarta juga ikut main di ruang yang sama dan kesempatan yang sama.

Sebagai teman ngobrol IBM Palguna ada Wayan Juniartha, Ngurah Karyadi, dan dimodertori ole Heru Gutomo.

Aku tidak ingin menceritakan semua hal yang terjadi di sana. Aku cuma mau memungut sedikit hal yang sangat menarik dari sekian tanda, permainan, percakapan, diskusi, atau hal-hal yang terjadi di sana. Sekali lagi, hanya sedikit. Laiknya puzzle, aku hanya mengambil satu potong, sedang di sana masih banyak potongan-potongan lain yang berserak. Menyeruak. Hal ini karena aku bukan pengingat dan pencatat yang baik. Bukan berarti karena sepotong kemudian yang lain tidak berguna. Bukan.

Apakah kebenaran harus dibela? Dipertahankan? Kalau tahu kebenaran itu benar, mengapa harus dibela dan dipertahankan dengan mati-matian? Dalam sejarah banyak orang menjadi korban untuk kebenaran. Dan tentunya akan terus berkelanjutan hingga…..entah…

Setidaknya demikian inti potongan pernyataan dan pertanyaan yang terlontar pada malam itu. Sebuah pertanyaan yang tidak perlu dijawab. Dan pernyataan yang tidak perlu disanggah secara langsung. Namun perlu dikembalikan kepada kesadaran dan perenungan. Ah…

Berapa berapa banyak orang telah jadi korban untuk sebuah kebenaran?

Tentunya sudah tidak bisa dihitung lagi. Sejak manusia lahir dan berkembang hingga sekarang mungkin jumlah orang yang telah jadi korban sebanyak manusia yang ada di muka bumi ini. Baik kebenaran yang berlandaskan pada ideologi politik, religi-agama, kekuasaan, dan kebenaran-kebenaran lainnya. Bentuk-bentuk pembelaan atas kebenaran tersebut dapat berupa perang, pembunuhan, tindakan destruktif, dan sebagainya.

Kalau percaya kebenaran itu benar mengapa harus dipertahankan mati-matian?

[re] denpasar.01/2008