Malam itu (8/2) Taman 65 cukup ramai. Setidaknya tidak kurang dari 40 orang hadir sebagai bagian dari peserta yang ingin “mengalami dan mengikuti” agenda bedah buku “Inilah Pamflet Itu” karya Hersri Setiawan, sastrawan Lekra.
Selain bedah buku acara tersebut dimeriahkan juga oleh pertunjukan musik, baca puisi, dan juga pemutaran film. Film yang diputar adalah film dokumenter yang dibuat Komunitas Tanda yang bertitel sama dengan buku yang hendak dibedah, Inilah Pamflet Itu.
Acara ini terwujud hasil kerjasama Yayasan Pondok Rakyat (YPR) Yogyakarta, Yayasan Tifa, dan juga Komunitas Taman 65 Denpasar.
***
Di sebuah pekarangan rumah atau pun ladang yang ditumbuhi oleh bambu terdapat ayam yang sedang beradu. Beberapa kali kepakan dan juga sabetan taji terjadi. Kemudian sekilas terlihat orang yang sedang mengasah pisau dengan wungkal; supaya tajam juga terkesan merindukan mangsa. Suasana seakan penuh dengan adegan kekerasan, namun bukan kekerasan yang mencekam. Hanya perilaku kekerasan yang penuh dengan keriangan oleh iringan musik yang berdendang. Musik pengiringnya (soundtrack) cukup memberi warna kontras dengan suasana yang sedang dibangun.
Akhirnya pisau yang sebelumnya diasah menjalankan fungsinya; untuk memotong. Dalam hal ini memotong atau menyembilh urat leher seekor (atau beberapa) ayam. Darah merah mengalir pada lobang tanah yang digali tidak terlalu dalam.
Tiba-tiba suasana-susana kekerasan tersebut sirna. Tidak ada lagi suasana kekerasan. Selanjutnya yang tampak adalah suasana beberapa ibu-ibu masyarakat desa yang sedang melakukan “aktivitas domestik” di pekarangan (halaman) rumah. Sekali lagi oleh beberapa ibu. Sebuah aktivitas massal dengan peran masing-masing. Ada yang mencuci potongan-potongan daging ayam. Ada yang sedang mengulek (menghaluskan bumbu). Ada yang menunggui pawon sambil membenarkan nyala api agar tetap terjaga. Ada yang sedang menggoreng bumbu sebelum bahan-bahan masakan dimasukan ke dalam wajan. Itulah aktivitas masak. Tapi bukan aktivitas masak yang biasa, namun aktivitas masak yang dirayakan. Suasana semacam ini biasa terjadi bila sedang atau akan ada suatu hajatan; sehingga melibatkan beberapa orang tetangga atau kerabat untuk menyiapkannya. Konsep gotong royong yang masih terpelihara pada masyarakat desa.[1]
Dari arah jalan desa terlihat sebuah mobil jip yang membawa rombongan anak-anak Punk atau pemusik jalanan memasuki desa. Hal tersebut terlihat lewat pakaian serta aksesoris yang mereka kenakan. “Kami datang,” dengan sedikit ragu dan lugu diucapkan oleh salah seorang dari rombongan anak Punk tersebut entah kepada siapa. Yang jelas seorang laki-laki berambut gondrong sambil memegang topeng barongan kecil menyambutnya dengan diiringi anak-anak kecil. Kesan yang ditangkap, mereka sudah saling kenal.
Sampai di depan sebuah rumah mereka disambut oleh Hersri. Lelaki yang mengenakan topeng barong itu coba memperkenalkan personil anak-anak Punk tersebut kepada Hersri seraya bercanda. Sebuah suasana penuh keakraban.
Pada suasana yang berbeda. Di teras sebuah rumah sederhana Sipon, Ngantiwani, serta Fajar (Istri dan dua anak Wiji Tukul) terlihat sedang bertandang. Tidak lama kemudian dari dalam rumah Hersri keluar menyambutnya. Sebuah percakapan beramah-tamah pun terjadi; menanyakan tentang kabar dan tetek-bengeknya.
“Hanya acara kecil dengan hanya mengundang tetangga dekat saja. Orang-orang dekat”, setidaknya demikian jawaban Hersri menanggapi pertanyaan Ngantiwani.
Suasana menjadi haru. Mata Hersri penuh terbayang oleh kenangan masa lalu yang belum juga pudar. “Maaf, kalau saya membuatnya bersedih”, ujar Ngantiwani menyadari yang tidak mengenakkan. Pun dengan Sipon. Ia mengucek matanya, mungkin ia terkenang akan suaminya yang masih hilang.[2]
Orang-orang telah berkumpul di sebuah balai rumah. Para bapak, Ibu-ibu yang sebagian berjilbab, anak-anak kecil, anak-anak Punk, dan juga Hersri itu sendiri. Beberapa waktu kemudian Hersri membacakan sajaknya. Sebuah sajak yang didahului dengan nukilan kalimat-kalimat Toynbee, seorang sejarawan Inggris. Suasana menjadi begitu menggenang dengan pembacaan puisi yang cukup panjang. Hanyut dengan suasana tema sajak. Sebuah sajak yang bercerita tentang kematian; kematian kawannya di pulau Buru. Dilanjutkan dengan pembacaan sajak oleh Ngantiwani.
Sementara di dapur atau teras rumah ibu-ibu sibuk menyiapkan makanan, termasuk nasi tumpeng kuning. Sebuah prasmanan sedang dipersiapkan. Selanjutnya nasi tumpeng tersebut dibawa ke balai rumah selepas selesai pembacaan sajak. Hersri memotong nasi tumpeng tersebut dan kemudian potongan tersebut diberikan kepada salah seorang warga. “Silahkan. Silahkan”, ujar Hersri menyilahkan orang-orang yang lainnya untuk turut mengambil dan mencicipi tumpeng dan juga prasmanan yang terhidang. Warga bubar mengambil makan. Sebuah pesta sedang dirayakan.
Akhirnya balai rumah yang sebelumnya dipenuhi banyak orang satu per satu pergi. Tinggal menyisakan sesuatu yang menandakan, tadi di sana telah ada hajatan. Gelas masih berserakan. Malam tiba. Hersri berdiri sendiri di tengah balai rumah itu yang telah sepi. Selanjutnya suara pembacaan sajak Hersri terdengar memenuhi malam itu.
Di jajaran-jajaran kuburan tua Hersri melintas diantaranya. Kemudian diri Hersri masih berdiri sendiri di balai rumah terlihat samar. Tambah samar. Sebelum akhirnya menghilang. Tinggal balai ruang yang lengang.
Itulah penggalan film dokumnenter, Inilah Pamflet Itu, yang terekam dalam ruang ingatan saya. Tidak menutup kemungkinan deskripsi penggalan film itu ada yang tumpang tindih, dibesar-besarkan, atau ada yang dihilangkan, baik disengaja maupun tidak. Tidak menutup kemungkinan hal tersebut disebabkan oleh lemahnya memori saya dalam mengingat dan juga berkelit-kelindan antara ingatan dan khayalan saya.
Mohon maklum.
Film; realitas buatan.
Film merupakan hasil kerja audio-visual yang mencoba mengabadikan suatu realitas. Film merupakan kelanjutan teknologi fotografi. Ia mengabadikan laiknya realitas itu sendiri; bergerak dan bersuara. Meskipun yang dijadikan objek adalah realitas, namun hasil film bukanlah realitas itu sendiri. Ia hanya realitas buatan, psedo realitas (?). Karena sebuah film merupakan upaya membahasakan skenario. Film dibuat melalui skenario. Laiknya pementasan teater, ia hanya sebuah kepanjangan tangan dari naskah drama (pikiran). Pun dengan film dokumenter yang kuasi-realitas, yang mengambil dari kehidupan manusia itu sendiri, tetap saja melibatkan suatu sistematika plot atau karakterisasi yang terwujud dalam sebuah skenario. Realitas yang sebenarnya adalah peristiwa itu sendiri.
Meskipun mengambil dari realitas sosial, tetap saja pekerja film (film maker) dokumenter melakukan pemilah-pilahan atau menyisihkan realitas mana yang akan dijadikan rangkaian agar film tersebut mempunyai alur “yang bercerita”. Hal rekayasa tidak dapat dihindarkan, meskipun dapat meminimalisir dibanding film atau sinetron lainnya.
Kita sudah sangat paham bahwa film-film atau sinetron yang biasa yang kita saksikan di layar televisi atau pun di gedung bioskop hanyalah kepanjangan tangan dari skenario. Sebuah hasil dari rekayasa skenario ke dalam media audio-visual.
Film dan sinetron merupakan bentuk teater yang dipindahkan ke dalam media audio-visual yang sifatnya lebih canggih. Sehingga lebih massif dan instan. Penonton tidak perlu keluar rumah dan pergi ke gedung-gedung pertunjukan sekadar untuk menyaksikan “lakon kehidupan”. Justru para pengelola televisi itu sendiri yang dengan massifnya menawarkan diri pada kita. Kita tinggal pencet tombol remote kita sudah akan diantarkan pada tayangan-tayangan yang kita inginkan, tayangan-tayangan yang mereka tawarkan.
Kita tahu bahwa apa yang terjadi dalam film bukan hal yang sebenarnya terjadi. Orang yang mati dalam film tidaklah mati yang sebenarnya. Orang yang kepedasan cabe juga tidak harus mulutnya dilumuri oleh cabe. Orang minum racun tidak harus minum racun yang sebenarnya, dan sebagainya.
Film Anti-Film?
Menyaksikan film (dokumenter) Inilah Pamflet Itu kita benar-benar tahu kalau itu adalah film penuh rekayasa. Para pembuatnya tidak menghilangkan perilaku perekayaannya. Realitas dalam pengambilan gambar dibiarkan terlihat atau tampak dalam alur yang dibangunnya. Hal yang jarang terlihat dalam film-film yang biasa kita saksikan dalam film bioskop atau sinetron.
Salah satu pihak pembuatan film yang terkadang susah adalah editor film. Di mana tugas editor harus mengedit stok adegan (scene) yang telah diambil bisa menjadi rentetan gambar yang bercerita dengan dipandu oleh skenario. Bila stok pengambilan adegan (scene)-nya banyak tidak akan jadi masalah. Menjadi masalah adalah bila stoknya minim dan tidak terlalu sesuai dengan skenario. Karena tidak jarang ia dengan “darah dinginnya” tanpa banyak kompromi, membuang gambar-adegan yang sekiranya tidak bagus dan tidak sesuai dengan skenario.
Bisanya tugas editor, selain menjadikan rangakaian adegan tersebut menjadi sebuah film dengan plot dan bercerita. Adalah jangan sampai proses-proses pengambilan gambar terlihat dalam sebuah alur yang bernama film itu. Bila sampai ada proses pengambilan gambar yang masuk dalam rangkaian film menjadikannya bocor, mengurangi “nilai estetika” sebuah film. Hal tersebut dipandang sebagai ketidak-telitian atau kecerobohan editor. Amatir. Misalnya kru terlihat pada saat adegan, atau mick speaker terlihat, dan lainnya. Intinya jangan sampai kru atau aktivitas kru yang tidak sesuai dengan skenario masuk dalam scene. Dalam industri film hal tersebut dianggap taboo.
Seperti telah disebut di atas, menyaksikan Inilah Pamflet itu kita justru disuguhkan bahwa ini adalah realiatas buatan. Realitas film sekaligus realitas proses produksi film. Atau dengan kata lain Inilah Pamflet Itu, mengajak penonton tetap dalam pada kesadarannya bahwa ini hanya sebuah film bukan realitas itu sendiri. Berbeda dengan film-film atau sinetron, kita tahu bahwa itu adalah film, fiktif, namun tampilan atau gambaran yang disodorkan pada kita justru mengajak kita bahwa ini realitas yang sebenarnya. Riil.
Inilah Pamflet Itu lebih bertujuan fungsional, laiknya paham seni yang dikumandangkan Realisme Sosialis, dengan tidak terlalu menonjolkan-mengejar segi artistik. Seni adalah media komunikasi. Bukan semata ruang ekspresi dengan semata mengejar nilai artistik-estetiknya. Namun bagaimana pesan itu sampai kepada audien/publik.[3]
Inilah Pamflet itu!
Sebagai sebuah film yang menghadirkan adegan-adegan simbolik yang berbicara masalah kemanusiaan film ini sudah cukup. Di mana pada adegan ayam yang sedang bertarung, kemudian disembelih, lantas dagingnya dibuat pesta. Mungkin cukup ujaran yang Hobbes tuturkan, Homo homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia yang lain. Dengan alasan apa pun, manusia satu dapat dengan mudah membunuh manusia yang lainnya. Seolah nyawa tidak ada artinya. Laiknya peristiwa 1965.[4] Dan Hersri, dalam hal ini, pernah menjadi korbannya.
Mungkin film ini dapat dikategorikan kedalam genre Film anti-Film itu. Sebagai tandingan pengertian film yang dikumandangkan oleh kaum film maker Hollywood.
|re.denpasar.02/2008
[1] Pada perkembangannya konsep memasak tersebut telah mengalami pergeseran, setidaknya pada beberapa komunitas masyarakat. Pada zaman sekarang tidak sedikit masyarakat yang maunya praktis saja. Selain tumbuh rasa pakewuh minta tolong sama tetangga karena kesibukannya. Adalah dengan memanfaatkan jasa katering. Baik di desa maupun di kota jasa ini sudah banyak bertebaran.
Sebuah perayaan juga terlihat pada bahan yang dimasak; ayam, selain sayuran lainnya. Daging ayam atau sapi menjadi petanda bahwa suasana itu merupakan suasana yang cukup berbeda dengan suasana atau realitas keseharian. Daging merupakan salah satu menu istimewa dalam perjamuan makan pada masyarakat agraris tradisi.
[2] Konon Wiji Tukul hilang beberapa hari setelah peristiwa 27 Juli. Dugaan yang kuat adalah Tukul diculik oleh aparat. Nasibnya hingga kini tidak terdengar.
[3] Setidaknya demikian pengertian singkat Realisme Sosialis. Konon Realisme Sosialis yang banyak berkembang merupakan hasil penafsiran Stalin atas estetika Marxisme. Dan Gramsci, seorang Marxis, tidak terlalu sepakat dengan Realisme Sosialis tersebut yang hanya mengejar isi dengan melepaskan wujud. Menurut Gramsci harus ada keterpaduan diantaranya.
[4] Beberapa buku yang sempat saya baca, baik pemerintah dan lembaga-lembaga lainnya yang kontra dengan PKI maupun dengan PKI sendiri kerap kali “saling membunuh”.


1 tanggapan kepada “Inilah Pamflet Itu; sebuah film”
Lukisan Abstrak
Januari 29th, 2011 pada 04:34
bnyk juga tuh yg mengalami dan mengikuti agena bedah buku,…