anak pintar
Jauhar Mubarok Gundukan tanah itu masih basah. Gerimis baru saja ruah. Bunga-bunga yang berserak-tabur di atasnya telah layu. Sebilah kayu ditanam berdiri di atas ujung utaranya: tanda. Sebuah nama, angka-angka, dan nama desa tercatat dengan abjad-abjad putih pada tubuhnya. Sangat sederhana. Semilir angin senja menerpa wajahnya. Bau segar bunga kamboja dan kantil berdesak menelisik hidungnya. [...]

