Jauhar mubarok
Dalam kehidupan sehari-hari kita banyak menggunakan istilah-istilah dari bahasa asing. Jarang kita benar-benar menemukan istilah asli dari budaya bangsa sendiri. Mungkin sangat benar bila seorang munsyi mengatakan bahwa 9 dari 10 istilah atau bahasa yang kita gunakan sehari-hari berasal dari bahasa asing. Nah lho.
Mungkin sudah jadi takdir kita sebagai bangsa importir. Hal tersebut tidak hanya dalam hal bahasa, namun hampir merasuk pada semua bidang. Mulai importir gaya hidup (baik gaya hidup populer maupun gaya hidup perlawanan), peralatan hidup (komputer, motor, hingga biting tusuk gigi), wacana keilmuan (mulai teologi, psikologi, filsafat, hingga, menanam tomat). Bahkan hingga beras pun kita impor dari Thailand dan Vitnam. Padahal bangsa kita bangsa agraris. Tanah-tanah kita melumpah ruah. Hampir semua lini kehidupan kita adalah hasil budaya bangsa lain yang kita adopsi.
Mestinya kita tidak bangga sama sekali dengan hal tersebut. Sebagai importir bukan menunjukkan bahwa kita kaya dan mapan. Justru sebaliknya: kita miskin dan instabil. Bangsa yang besar adalah bangsa yang mencipta. Atau dalam contoh keseharian: seorang pengusaha cenderung lebih kaya dibanding dengan pembelinya/konsumennya. Hal yang mudah adalah pengusaha rokok. Bukankah H.M.Sampoerna jauh lebih kaya dibanding kita yang membelinya.
Antara Kesopanan dan Tradisionalitas
Apakah kita memiliki istilah sendiri untuk menyebut tempat buang hajat-buang air kecil maupun besar-tersebut? Mungkin yang benar-benar berasal dari akar budaya kita adalah kakus atau jamban, meskipun berbau sangat Jawa. Mungkin daerah lain punya istilah lainnya. Namun berapa sering kita menyebutnya dengan istilah tersebut. Istilah tersebut sudah semakin terpinggirkan dan dilupakan. Kakus dan jamban telah terdistorsi oleh nilai-nilai kesopanan dan modernitas yang selama ini kita anut. Kita cenderung menyebut kakus dan jamban dengan istilah WC, kloset, toilet, kamar kecil, atau ada istilah lainnya.
Dengan pola pikir yang mengedepankan modernitas kita melihat kakus dan jamban merupakan produk budaya tradisional. Sebagai produk budaya tradisional kakus dan jamaban dalam kacamata kita merepresentasikan sesuatu yang tidak up-to date, sesuatu yang ketinggalan jaman dan usang. Sehingga istilah kakus dan jamban hanya cocok digunakan oleh masyarakat tradisional yang tinggal di pedesaan serta jauh dari peradaban maju. Di sini pola pikir yang bersumbu pada evolusionisme muncul dengan tanpa menanggalkan keangkuhannya.
Anggapan ketradisionalan kakus dan jamban juga bersandar pada bentuknya yang terbuat dari adonan semen, pasir, kapur tersebut. Kakus dan jamaban biasanya dibuat secara sederhana dan apa adanya. Dan biasanya di tempatkan di belakang atau pekarangan belakang yang cukup jauh dari rumah inti. Sekarang kita cenderung malu menyebut dengan istilah itu. Iya kan?
Hari ini selain bermakna tradisional pola pikir kita juga digiring untuk mengiyakan bahwa penggunaan istilah kakus dan jamban berarti tidak sopan, setidaknya di telinga kita terasa janggal. Terasa tabu diucapkan di hadapan banyak orang. Ketidaksopanan itu muncul hasil dari analogi yang terlalu sederhana dan menyesatkan. Karena terkesan tradisional sehingga kakus dan jamban direpresentasikan sebagai suatu tempat yang kotor. Orang desa atau tradisional dianggap sebagai orang-orang yang jorok-tidak paham kebersihan dan kesehatan. Terlalu sering kita melihat perangai orang kota yang sok bersih dan memandang jijik orang-orang desa.
Istilah lain kakus dan jamban yang terasa akrab di telinga dan mulut kita adalah WC. Dan sumpah banyak kalangan kita telah menganggap WC merupakan istilah asli yang kita miliki. Terlebih hampir semua kalangan masyarakat dari kota hingga pelosok desa menyebut dengan istilah yang sama: WC.
Benarkah istilah WC berasal dari budaya kita? WC merupakan singkatan dari water closet. Dari dua kata pembentuknya saja kita sudah tahu kalau istilah WC berasal dari bahasanya Tony Blair. Ada pula yang menyebut kloset.
Mulanya istilah WC dapat diterima dan dipergunakan oleh semua kalangan. Tidak kenal status sosial dan letak demografi. Bahkan kita menganggapnya sebagai istilah yang berasal dari bahasa kita. Namun beberapa waktu belakangan ini penggunaan istilah WC pun kembali dipertentangkan dengan etika sosial-budaya.
Istilah WC tidak lagi enak didengar telinga dan terkesan vulgar. Banyak orang mulai sungkan menyebut istilah ini ketika berada di hadapan orang. Akhirnya WC disamakan dengan kakus dan jamban yang tradisional, vulgar, dan tidak sopan.
Lantas muncul istilah toilet untuk menggantikannya. Meskipun kemunculannya agak belakangan bukan berarti istilah toilet benar-benar baru. Mungkin kemunculannya hampir sama-berbarengan dengan istilah WC di negeri asalnya sana. Yang jelas dalam lingkup budaya kita istilah toilet telah menggusur istilah kakus, jamban, dan WC.
Untuk membuktikannya coba kunjungi tempat-tempat publik di sekitar anda adakah yang masih menggunakan istilah WC untuk menunjuk tempat buang hajat? Kalaupun ada sangtlah langka. Atau cobalah bertanya kepada seseorang yang kau temui di jalan atau terminal, di mana WC terdekat? Kau akan tahu bagaimana reaksi orang tersebut.
Kini di ranah publik kebanyakan menggunakan istilah toilet. Dari kantor pemerintahan, kampus, pasar, terminal, hingga mall. Karena di ranah publik tersebut ukuran etika kesopanan ditimbang.
Yang Asing Yang Sopan
Hampir semua bangsa mengenal dan memiliki sopan santun. Tentunya dengan kadar yang plural, tergantung nilai historis dan nilai sosio-kultural yang dipegang.
Dalam bahasa oral-verbal kita juga mengenal istilah kamar kecil untuk menyebut tempat buang hajat. Namun ini hanya sebagian kecil dari kita yang benar-benar menggunakannya. Adalah eufemisme yang menuntut untuk tidak menunjukkan kevulgaran tersebut.
Dalam kasus istilah tempat buang hajat ini kita cenderung mengartikan kesopanan dengan istilah yang agak asing. Mungkin agak eksklusif, tidak massal, tidak populer. Kita ambil contoh kakus dan jamban di atas. Istilah tersebut sudah begitu umum, semua kalangan masyarakat tahu bahwa kakus dan jamban merupakan tempat buang hajat. Begitu juga dengan istilah WC. Istilah ini sudah begitu populer dipergunakan semua kalangan masyarakat. Karena populer dan digunakan oleh semua kalangan masyarakat maka istilah tersebut dikategorikan tidak lagi memenuhi kadar kesopanan. Perlu diperjelas di sini bahwa kesopanan di sini tidak dalam konteks kehidupan sehari-hari dalam lingkup keluarga dekat atau keluarga inti. Kesopanan cenderung tidak berada pada ranah domestik. Mungkin tidak akan masalah bila seorang menjawab, mau ke WC, ketika ditanya orang tuanya.
Kesopanan adalah milik publik, ia berada dan dipergunakan dalam ranah publik.
Istilah toilet mungkin agak terasa asing di telinga masyarakat awam, meskipun tahu maksud dan arti kata itu. Istilah toilet seolah berada pada tingkat lebih tinggi daripada kakus, jamban, dan WC. Terlebih bila digunakan dalam ranah domestik, pengguna istilah tersebut dipandang sangat sopan. Secara tidak langsung kesopanan akan dikorelasikan dengan status sosial. Tingkat pendidikan, kepriyayian, dan sebagainya.
Dalam kasus ini kita seakan didorong untuk mengiyakan bahwa yang asing merupakan yang sopan. Lagi-lagi kita mengamini perbedaan kelas sosial dengan munculnya budaya tinggi dan budaya rendah. Toilet seolah mewakili budaya tinggi yang digunakan oleh orang-orang terpelajar, kaya, dan berwawasan luas karena bergaul dalam ranah publik. Sedang kakus, jamban, dan WC adalah representasi dari budaya rendah karena digunakan oleh kebanyakan orang. Dan dalam ranah domestik.
Tidak bisakah kita benar-benar menghilangkan dikotomi budaya rendah dan budaya tinggi?


1 tanggapan kepada “Dari Kakus hingga Toilet”
Abdul Khaliq
Desember 5th, 2011 pada 02:25
Xixixixixixixixixi