h1

Memaknai Pulang dan Catatan Kacau Tak Runut !

22 Juli 2008

jauhar mubarok

Pulang hanya dialami oleh orang-orang yang pernah pergi dan meninggalkan tempat berpijak. Pulang adalah kembali pada zona keberangkatan. Tentunya setiap orang punya hak dalam memaknai titik mana dirinya berangkat. Belum pasti rumah, tapi ada kecenderungan itu.
Pulang adalah suatu pengalaman untuk kembali mengalami masa-masa lalu. Kita dituntut untuk mengenang sesuatu peristiwa, keadaan yang pernah dilewati pada masa-masa sebelum kita pergi dan meninggalkannya. Maka pulang identik dengan romantisme ; tanpa kita sadari. Karena ketika kita kembali bayangan-bayangan masa lalu akan hadir dengan sendirinya. Tuntutan ziarah-kenangan akan selalu dituntut lewat orang-orang yang pernah kita kenal. Benda-benda yang pernah akrab dengan kita. Atau kondisi lingkungan fisik yang pernah sangat intim pada masa lalu. Ketika kita pulang pada hakikatnya kita menghadirkan kembali masa lalu dan kita komparatifkan dengan masa sekarang, kondisi kekinian.
Homo romantikus adalah salah satu istilah yang dapat disematkan pada manusia. Mungkin hanya pada manusia. Karena selama ini belum ada penelitian yang mengungkapkan binatang atau tumbuhan yang dapat mengenang masa lalu. Homo romantikus setara dengan animal symbolicum, hayawanun natiq, homo sapiens, homo ludens, dan sebutan-sebutan lainnya.
Maka tidak mengherankan bila pariwisata juga menyediakan yang berhubungan dengan romantisme. Seseorang pernah menuliskan, “pariwisata hanya menuntut masa lalu!”. Dalam artian dalam salah-satu menu pariwisata yang dijual meliputi sesuatu hal yang berhubungan atau mengajak turis untuk beromantis-ria, merasakan dan menghadirkan masa lalu. Setidaknya hal tersebut dapat terlihat pada banyaknya turis yang suka berjalan-jalan ke tempat-tempat pertanian, perkebunan, desa yang asri, mengunjungi masyarakat tradisional/asli, dan sebagainya. Mereka mengunjungi tempat atau kondisi yang dianggap memiliki keunikan dan belum secara masif berinteraksi dengan modernitas dan globalisme. Meskipun tidak dinafikan juga banyak turis yang ketika hadir ke tempat wisata menikmati kesamaan dengan di tempat asalnya.
Ketika mereka datang pada daerah-daerah dengan komunitas masyarakatnya yang terasa masih asli/tradisional mereka berkaca; guna resonansi atau sombong diri dengan tingkat peradabannya yang tinggi karena telah melalui evolusinya yang lebih dini dalam menapaki tahap-tahapnya.
Perilaku memperbandingkan dua kondisi akan selalu terjadi. Tinggal bersifat ekstrem atau biasa saja. Juga tujuannya untuk apa. Dan itulah kelebihan manusia.
Misalnya ketika aku pulang secara sadar atau tidak aku hadir dalam ruang yang berbeda dengan titik keberangkatan sebelumnya, meskipun aku pernah mengalaminya. Katakanlah dalam konteks ini pulang yang aku maksud adalah datang dan berada di Cilacap. Karena Cilacap adalah titik berangkat awalku; di mana aku lahir, tumbuh, dan mengalami masa kecilku di sana. Sedang Denpasar, Yogyakarta, dan Banyumas hanyalah tempat tinggalku sementara waktu; karena adanya maksud dan tujuan yang terpatri. Maksud dan tujuan atau yang aku lakukan di kota-kota tersebut sangat bersifat sementara. Dan tidak menutup-kemungkinan kesementaraan ini akan menjadi permanen dan abadi ketika telah menemukan alasan lainnya.
Maka ketika pulang ke Cilacap aku akan berhadapan dengan kondisi Cilacap yang sekarang, yang sangat mungkin sudah sangat berubah dengan kondisi Cilacap yang pernah aku alami. Kata filsuf Herakleitos, hanya perubahan yang abadi. Sebuah kehadiran pada dua ruang/kondisi yang berbeda bisa jadi akan menjadi jembatan yang menghubungkan keduanya. Dan tidak menutup-kemungkinan diawali dengan perasaan kaget, ketakjuban, keheranan, asing, dan sebagainya. Adalah suatu kewajaran bila perasaan-perasaan tersebut bermunculan dan berkelit-kelindan dalam benak kita. Hal tersebut disebabkan oleh paradigma yang berbeda, atau titik pandang yang berbeda. Kita dibesarkan dan hadir dari masa lalu untuk melihat kekinian yang telah mengalami perubahan!. Kita memandang kekinian dengan masa lalu. Pun ketika kemarin aku pulang, sebagaimana pulang-pulang sebelumnya.
Secara fisik tidak sedikit memang tempat lahir dan tumbuhku mengalami perubahan. Kini di depan stasiun banyak dibangun los-los yang dipakai untuk toko atau tempat jualan. Mulai mie ayam, soto ayam, apotek, bahan-bahan bangunan, kelontong, pupuk, dan sebagainya. Akhirnya sawah-sawah yang dulunya dapat jadi tempat bermain bola, mancing, dan sebagainya kini berubah jadi jajaran los tempat belanja bermacam kebutuhan, ragam keinginan. Aku tidak terlalu memperhatikan apakah pohon juwet masih ada? Selintas pandangan sepertinya sudah jadi almarhum. Hilang. Ditebang. Mungkin karena mengganggu pembangunan los-los itu.
Alfamart. Sebelum bus yang kutumpangi sampai di desaku, di beberapa desa yang kulintasi aku melihat toko swalayan/mini market Alfamart. Waktu itu aku berpikir, “gila! Waralaba gaya hidup belanja sudah masuk desa”. Sudah begitu majukah desa itu hingga gaya hidup belanja dengan model swalayan hadir. Entah waktu itu yang terlintas di benakku apa; mungkin mengaguminya. Mungkin juga sinis melihat mentalitas masyarakat ke depannya. Akh.
Namun begitu tahu di desaku juga ada, gila ! ternyata sudah begitu menjamurnya.
Mungkin bagi masyarakat desaku berbelanja di Alfamart juga berbelanja dengan menyepadankan dirinya dengan perilaku orang kota yang kerap mereka tonton di televisi. Mereka sudah merasa laiknya orang kota. Hanya karena berbelanja dengan sistem pelayanan sendiri. Akh.
Tidak menutup-kemungkinan suatu hari nanti akan ada, bukan lagi mini market, namun supermarket atau mall. Sebuah pasar besar yang dikelola oleh swasta. Tentunya keberadaan mall-mall tersebut akan menggeser keberadaan pasar-pasar tradisional. Sebelum pasar-pasar tradisional tersebut mati karena kalah dalam persaingan, masyarakat akan lebih dahulu meninggalkan kebiasannya belanja di pasar. Pasar seolah menjadi tempat yang menjijikkan, kotor, banyak tikus, becek, dan tidak bergengsi. Belum lagi iming-iming mall yang bersih, harga lebih murah, tidak perlu menawar, plus tempat yang nyaman, dan juga selain berbelanja menyeruput gaya hidup berbelanja. Maka keberadaan mall akan menyingkirkan para penjual yang bermodal kecil. Pedagang kecil. Yang tidak mampu menyewa tempat.
Aku tidak terlalu kaget dengan perubahan sarana-prasarana fisik yang terjadi di desaku. Justru aku tersentak oleh orang-orang sekitarku. Aku tidak lagi paham dengan siapa ini, siapa itu. Ternyata waktu meninggalkan rumah sudah begitu lama. Aku berharap tidak lamur. Bila terhadap orang-orang yang sudah dewasa-tua, mungkin aku tidak terlalu pangling dengan perubahan yang ada. Aku pikir perkembangan secara fisik mereka sudah mentok tinggal kumis yang memanjang, rambut yang beruban, badan yang semakin keriput, gigi yang mulai banyak yang tanggal, dan sebagainya. Aku masih bisa mengingatnya, walau tidak jarang untuk mengiat namanya perlu bantuan. Terlalu lemah memoriku. Namun aku agak terkesima justru kepada anak-anak yang lebih kecil dibanding aku beberapa tahun. Mungkin malah masih sangat anak-anak ketika aku meninggalkan desaku itu. Aku mulai banyak yang tidak mengenalnya, baik nama atau anak siapa. Tidak ada pegangan untuk meraba-raba identitasnya.
Anak-anak kecil kini telah tumbuh jadi remaja. Yang dulu sd kini sudah ada yang kuliah dan menikah. Banyak diantaranya justru telah selesai kuliahnya. Sudah menyandang A.Md (ahli madya) dan Sarjana. Mereka mengernyitkan dahi ketika tahu aku belum wisuda. Seolah tidak percaya. Akh. Ini salah satu alasan yang membuatku bertambah malu untuk kembali pulang. Aku berharap beberapa bulan mendatang aku akan jadi sarjana. Semoga.
Bila sebuah pertanyaan dilontarkan padaku, “mengapa belum selesai kuliah?”. Kini aku tidak lagi punya alasan yang benar-benar benar. Bila aku menjawabnya dengan rangkaian alasan itu hanyalah pembenaran-pembenaran usang yang seharusnya tidak lagi terucapkan. Tapi dikerjakan!
Semoga kepulangan ini dapat menambah laju semangat untuk cepat melesat. Semoga tidak malah tambah tersesat.
Semoga!

Satu komentar

  1. njur oleh-olehe endi jo….



Tinggalkan sebuah Komentar