[artiste manque]

Kasus Penculikan Aktivis Kembali Dibuka

Posted in sosiokultura by @jauharmu on 23 Oktober 2008

Menjelang berakhirnya tahun 2008 ini muncul selentingan wacana dibukannya kembali kasus penculikan aktivis demokrasi. Seperti kita tahu dan dengar, bahwa menjelang runtuhnya kekuasaan rezim Soeharto banyak terjadi pergolakan politik antara mahasiswa/rakyat dan penguasa. Pergolakan politik tersebut berimbas pada penghilangan/penculikan aktivis demokrasi. Beberapa aktivis yang sempat diculik sudah ada yang kembali-pulang. Namun tidak sedikit aktivis yang hingga sekarang belum terlihat batang hidungnya. Wallahu a’lam apakah mereka masih bernyawa dan hidup entah di mana atau tubuhnya sudah diurai oleh belatung-belatung yang mengembalikan ke tanah.

Bagi sebagian orang rencana pembentukan pansus tersebut seolah sebuat geledek di siang hari. Seolah tidak ada angin, tidak ada mendung, ada hujan. Muncul secara tiba-tiba. Mengapa baru sekarang? Ketika masa jabatan anggota DPR sebentar lagi usai. Mengapa baru sekarang? Ketika pemilihan umum sebentar lagi tiba.

Wacana yang bergulir menghembuskan keterlibatan nama-nama mantan militer yang sekarang menjadi “orang penting” negeri ini. Sebut saja Susilo Bambang Yudhoyono, Prabowo Subiyanto, Wiranto, dan juga Sutiyoso.

Ada anggapan lahirnya wacana tersebut sangat berbau politis, karena seperti disebutkan di atas bahwa wacana ini muncul ketika masa jabatan anggota DPR sudah mau selesai dan menjelang pemilihan umum 2009. Munculnya wacana tersebut disinyalir sebagai upaya untuk menghambat atau menjegal orang-orang tersebut dalam pemilu mendatang. Sebagaimana kita ketahui bahwa Susilo Bambang Yudhoyono kemungkin besar akan maju lagi dalam pilpres mendatang. Begitu juga dengan Wiranto yang akan maju sebagai capres lewat kendaraan Partai Hanura. Sutiyoso akan mencoba peruntungan dengan Partai Indonesia Sejahtera dan beberapa partai kecil lainnya yang diklaim telah mendukungnya. Dan juga Prabowo Subiyanto sebagai ketua Partai Gerindra yang dalam beberapa polling punya kans yang cukup besar untuk maju sebagai capres. Dengan kata lain dibukanya kembali kasus ini akan mempengaruhi opini publik tentang citra orang-orang tersebut.

Jangan Kepentingan Pragmatis

Dalam koridor demokrasi wacana tersebut cukup menarik dan menggelitik. Sudah seharusnya kasus ini diselesaikan secara tuntas agar tidak menipu sejarah perjalanan bangsa. Dan juga untuk menghindari adanya kambing hitam dalam sebuah peristiwa. Memang benar sidang kasus penculikan aktivis ini telah menyeret beberapa orang yang ditetapkan sebagai terdakwa (Tim Mawar) dan telah dihukum; ada yang dipecat, ada yang ditahan, dan sebagainya. Namun yang menjadi pertanyaan sekarang adalah apakah orang-orang tersebut adalah orang-orang yang benar-benar melakukan penculikan? Apakah pengungkapan peristiwa tersebut sudah menjamah otak-nya? Jangan-jangan mereka yang sudah dipecat dan ditahan merupakan kambing hitam dari sebuah peristiwa.

Menurut saya, terlepas motif yang ada di belakangnya (politis atau ekonomis), asalkan pembukaan kembali kasus ini bnenar-benar untuk mencari tahu pelaku sebenarnya tidak jadi masalah. Jangan sekadar kepentingan pragmatis hari ini hanya karena menjelang pemilu 2009 dan berharap capres yang diusungnya tidak mendapat saingan dari para mantan petinggi militer tersebut. Kunci yang harus dipegang adalah bukan sekadar kepentingan politis pragmatis, namun untuk jangka panjang peradaban bangsa ini dalam mengarungi kehidupannya. Agar yang salah itu salah, yang benar itu benar: tidak menjadi catatan sejarah yang penuh catatan. Hal ini dibahas tuntas agar tidak seperti kasus 65 yang hingga sekarang masih mengambang: siapa sebenarnya otak pelaku dibalik peristiwa tersebut?

Yang perlu diperhatikan adalah tujuan dan tekad yang sesungguhnya yang mesti dijaga dengan kejujuran dan berprinsip keadilan.

Jika pembukaan ulang kasus ini hanya sekadar untuk kepentingan pemilu 2009 dan kemudian dilupakan dan berhenti di tengah jalan, maka sama saja dengan menyuapi mulut masyarakat dengan setetes air garam pada saat kehausan.

About these ads

Satu Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. ariantoni said, on 23 November 2008 at 3:40 pm

    Hi Jo’

    Kebanyakan sekarang aktivisnya sudah jadi caleg, jadi bisa jadi akan menjadi komoditas kaum “terindas”. Walau tidak mengeyampingkan yang benar-benar tertindas dan jujur.
    Calegnya Wiranto dan Prabowo juga banyak mantan aktivis yang mereka tindas.


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: