Emak membaringkan tubuh tuanya di atas dipan yang beralaskan kasur kapuk yang telah menipis. Sudah berkali-kali matanya coba dipejamkan, tetap saja terjaga. Sedikit pun rasa kantuk tidak menyapa matanya. Padahal malam telah larut, sebentar lagi kokok ayam dan adzan shubuh terdengar. Justru resah dan gelisah yang semakin renyah menjalari dadanya yang kerempeng dan tipis dimakan usia. Malam itu adalah malam kesekian emak harus merasakan susahnya tidur. Sangat menyiksa. Berbeda dengan hari-hari biasanya.
Biasanya sehabis menidurkan cucunya, tidak seberapa lama emak pun menyusul terpejam. Dan terbangun ketika suara adzan shubuh dari surau desa tetangga. Meskipun tidak sembahyang, emak akan terbangun dan menyibukkan dirinya dengan menyalakan pawon kayunya.
Saat-saat terjaga seperti malam itu seringkali pandangannya diedarkan menyapu ruangan yang bercahaya remang. Ruang kamar itu hanya diterangi oleh lampu minyak tanah yang terbuat dari botol bekas minuman energi. Sesekali matanya tertuju pada sebuah foto yang tertempel di dinding gedek kamarnya. Tentu saja matanya tidak jelas menangkap gambar yang ada pada foto tersebut, selain cahaya temaram dan kondisi matanya yang sudah kabur, juga gambar foto yang sudah pudar. Hal tersebut seakan bukan halangan, dirinya sudah sangat hapal dengan gambar yang ada pada foto tersebut. Foto Sarinah, anaknya. Sesekali itu pula dipandanginya anak kecil yang tertidur pulas di sampingnya, seakan membandingkan.
Tidak terasa matanya meneteskan butiran-butiran air hangat yang meleleh turun ke pipinya. Lelehan air tersebut diusap dengan pakaiannya yang telah setia menemani hidupnya; merasakan manis pahitnya kehidupan. Usapannya hanya mampu menghapus dan menghentikan sebentar, air matanya terus saja mengalir bagai aliran sungai, bahkan semakin deras menuruni dataran mukanya yang mulai keriput. Dadanya bergemuruh; laiknya gunung berapi yang sedang meletup-letupkan lahar agar dimuntahkan.
Malam terus mengalir mengikuti lingkar garis sabda alam. Purnama bersinar terang menatap bumi menembus celah-celah dahan dan dedaunan yang tumbuh di atasnya. Daun-daun pohon menari pelan dengan gemerisiknya yang dibelai tiupan dingin angin. Binatang malam berkeliaran mencari santapan guna mempertahankan hidup. Dari desa seberang suara lolongan anjing jalang tidak jarang terdengar bersautan. Menambah muram malam.
Pikiran Emak menerawang jauh pada masa-masa silam. Peristiwa-peristiwa yang pernah dialami hadir dan berkelebat seperti alur film yang terpenggal-penggal. Dari kelebatan-kelebatan kenangan itu, ingatannya terbentur pada Sarinah, anaknya, yang telah meninggalkan suami, anak, serta dirinya. Perempuan itu tidak lagi ingat berapa purnama telah lewat Sarinah tidak lagi bersamanya. Tapi perempuan tua itu sangat ingat, kapan Sarinah pergi meninggalkan kampung halamannya yang jaraknya cukup jauh dari kota kecamatan.
***
Tepat pada bulan sempurna. Itulah malam terakhir perempuan tua itu masih bisa melihat wajah dan bercakap-cakap dengan anaknya. Esok paginya becak yang dikemudikan Kirman, suami Sarinah, mengantarkan ke satu-satunya rumah gedong bertingkat yang ada di kota kecamatan. Mbak Geger, demikian pemilik rumah itu biasa dipanggil orang-orang desa. Sebagian masyarakat sekitar menganggap Mbak Geger sebagai orang yang telah berjasa mengentaskan masyarakat dari jurang kemiskinan. Bahkan pak lurah dan pak camat sendiri pernah mengucapkan terima kasih padanya dan memuji-muji profesinya sebagai penyalur tenaga kerja ke luar negeri. Karena Mbak Gegerlah pendapatan masyarakat desa terangkat. Masyarakat jadi bisa membangun rumah dan menyekolahkan anak-anaknya hingga jenjang yang lebih tinggi. Tidak jarang pula Mbak Geger itu turut menyumbang dana untuk perbaikan sekolah dan kantor kelurahan.
Di rumah Mbak Geger itu para calon tenaga kerja dari desanya berkumpul sebelum diberangkatkan dengan bus Damri yang akan mengantarkan mereka ke kantornya di Jakarta. Menurut cerita orang-orang yang pernah bekerja di luar negeri, di kantornya tersebut mereka dikumpulkan bersama para calon tenaga kerja dari berbagai daerah sebelum mereka disalurkan ke luar negeri, tempat mereka akan bekerja. Ada yang ke Malaysia, Saudi Arabia, Kuwait, Singapura, Hongkong, Korea, dan negara-negara lainnya.
“Sudahlah, Mak. Ini demi Ginah. Kita tidak cukup hanya ngandalin uang dari Kang Kirman. Biaya sekolah sekarang mahal!”, kata Sarinah kesekian kalinya untuk meyakinkan perempuan yang telah melahirkannya, dua puluh tahun yang lalu. “Sarinah tidak ingin masa depan Ginah sama seperti kita”, tambahnya mencoba meyakinkan. Perempuan tua itu hanya diam saja. Matanya memandang nanar pada sosok anaknya yang sibuk berkemas memasukan beberapa potong baju ke dalam tasnya, dibantu Kirman. Tangan kanannya menggerak-gerakkan kipas dari anyaman bambu untuk mengusir panas dan nyamuk pada tubuh cucunya yang telah terlelap di sampingnya.
“Selain itu, kita juga dapat membangun rumah jadi gedong. Seperti rumahnya Lik Diman”, Sarinah mencoba memberi mimpi lagi. Berharap Emak-nya tidak lagi menatapnya dengan pandangan nanar. “Sampai kapan kita hidup seperti ini Mak? Mumpung gratis! Hanya potong gaji. Tidak seperti Ngadisah atau Tumirah, istrinya Kang Parto itu, mereka harus mengeluarkan uang empat juta dulu sebelum bekerja. Mana punya kita uang sebesar itu. Ini kesempatan Mak!. Kang Kirman juga sudah setuju”. Kirman juga diam.
Tidak seperti hari-hari sebelumnya. Malam itu Kirman tidak banyak bicara berbeda dengan beberapa hari sebelumnya, Kirman sangat menentang maksud Sarinah; sebagai kepala rumah tangga harga dirinya merasa dilecehkan karena dianggap tidak mampu mencukupi kebutuhan sehari-hari. Mungkin Kirman sudah dapat menerima alasan kepergiannya atau telah bosan dengan sifat keras kepala istrinya.
“Emak teringat bapakmu”, kata Emak-nya lirih seakan tidak terucapkan sambil membaringkan tubuhnya yang telah lelah. Sewaktu Sarinah masih kecil suami Emak pergi merantau ke Jakarta. Namun hingga kini tidak pernah kembali.
“Percayalah Mak. Sarinah tidak sama dengan bapak”.
Emak tidak pernah membayangkan, anak satu-satunya akan meninggalkan dirinya di saat dirinya telah tua. Tulang-tulang telah melemah. Otot-ototnya mulai kaku. Matanya mulai kabur. Tangannya bergetar. Sarinah, kok kamu tega sama Emak!, batin perempuan tua itu dalam hati.
***
Sebenarnya perempuan itu sudah cukup pasrah dengan garis nasib yang dititahkan pada keluarganya. Dia tidak ingin lagi mengingat Sarinah dan peristiwa itu lagi. Tapi sore tadi banyak tetangganya yang pergi ke kota kecamatan. Menurut Diman, orang-orang mau menjemput Turiyah, istrinya Pak Shaleh yang baru pulang dari Abu Dhabi. Harapan mendapat kabar tentang Sarinah pupus ketika Turiyah menggeleng tidak tahu. “Saya tidak pernah bertemu dengan Sarnha, Mak!”. Sarinah seolah ditelan bumi.
Hanya sekali Emak menerima surat dari Sarinah. Itu pun pada bulan pertama dari kepergiannya. Dalam surat Sarinah menulis, dia sudah bekerja pada sebuah keluarga konglomerat di Abu Dhabi. Hanya itu yang diceritakan, tidak lebih.
Sejak kepergian Sarinah perilaku Kirman jadi lain; menantunya jarang pulang dan seringkali tidak bawa uang. “Lagi sepi Mak!. Tidak ada penumpang, makanya saya sering tidur di terminal”, demikian jawaban Kirman bila ditanya. Namun desas-desus yang berhembus mengatakan, sekarang Kirman jadi suka judi remi di pangkalan ojek dekat pasar kota kecamatan bersama tukang ojek dan tukang becak lainnya. Tidak itu saja, bahkan Kirman sempat kepergok saat tidur di rumah seorang janda tetangga desa. Perasaan Emak bertambah miris. Oleh teman-teman dan tetangganya Kirman sudah berkali-kali dinasihati agar pulang ke rumah dan jangan main lagi ke rumah janda tersebut.
Eh, tidak seberapa lama muncul berita yang tidak pernah diinginkan; Kirman mati dikeroyok massa, karena ketahuan berselingkuh dengan janda sebelah desa. Setelah dikeroyok tubuh Kirman disiram bensin dan dibakar. Kirman mati dengan tubuh gosong. Perasaan Emak semakin miris dan terpukul. Kirman, menantunya, yang diharapkan jadi tulang punggung keluarga, malah tewas mengenaskan.
Perempuan itu tidak pernah menyangka jika hidupnya akan selalu didera derita. Kembali perempuan tua itu menatap cucunya yang tidur pulas. Air matanya bertambah deras. “Entah bagaimana nasibmu, nduk?!”, gumam perempuan itu.
jauhar mubarok
denpost. 4 januari 2009
Jauhar Mubarok


1 tanggapan kepada “Babu”
jendral
Juni 23rd, 2011 pada 04:14
memang banyak nasib tki/tkw yg semacam itu. membuat miris hati ya.