Sebenarnya aku tidak perlu merasa bersalah kepada laki-laki itu hanya karena aku tidak bisa memenuhi permintaannya: jangan menceritakan yang sebenarnya. Meskipun aku sudah berusaha melakukan sekuat daya. Setidaknya aku sudah membuat sekian rencana untuk melaksanakan apa yang dipinta. Aku tidak bisa mengelak. Rencana yang telah kususun dari kota retak-puak karena perempuan itu datang dengan mengiba dan tahu aku berdusta.
Sebenarnya aku juga tidak usah merasa berdosa ketika perempuan itu akhirnya menangis histeris setelah mendengar cerita yang dipintanya. Aku sudah berusaha menolak demikian nekad dengan coba mengarang kebohongan yang sekiranya lebih menyenangkan daripada kejujuran yang mengecewakan. Sayangnya aku tidak pandai merangkai kata yang dapat meyakinkan dirinya laiknya seorang salesman yang dapat memaksa tanpa membuat terluka pelanggannya. Aku ragu. Lidahku begitu kelu, gagu. Saat itu aku sangat tidak kuasa ketika perempuan itu mulai meneteskan air mata mengiba. “Kau terlalu lugu untuk jadi penipu!”, katanya menunjukku.
*** Read the rest of this entry ?

