Sebenarnya saya suka menonton televisi. Saya bisa betah berjam-jam menyuntuki beragam tayangan di layar “kotak ajaib” tersebut. Mulai acara kuis, sinetron, kabar gosip, film, komedi, reality show, berita politik, dan iklan-iklannya. Satu yang jarang saya lihat adalah acara olah raga. Saya tidak suka berolah raga. Saya juga tidak suka membicarakan olah raga.

Saya masih ingat anjuran berbagai buku yang mengumpat: TELEVISI MENGHANCURKAN IMAJINASIMU. TELEVISI MENJADIKAN ORANG MALAS. TELEVISI MEMBUAT ORANG JADI OBESITAS. KILL YOUR TV! Anjuran, saran, dan amar tersebut masih saya ingat, bahkan ketika saya sedang melihat televisi dan mengalami sebagian dari akibat yang ditimbulkan. Namun hasrat saya untuk menonton tidak dapat saya matikan begitu saja.Saya senang menonton televisi, meskipun di kamar kos saya tidak ada televisi. Biasanya untuk dapat menonton televisi saya akan mengunjungi kos atau kontrakan teman yang mempunyai televisi. Sekadar membayar hasrat menontonnya dan melepas dari kejenuhan sepi dalam kamar. Mungkin sekadar untuk menonton berita sosio-politik, komedi, film, atau kabar gosip. Hiburan coy! Kalau pun menonton sepak bola itu juga karena Piala Dunia. Empat tahun sekali, bung!. Jangan sampai tidak tahu sama sekali. Hampir semua orang membicarakannya, makanya saya menontonnya. Saya merasa membahas sepak bola piala dunia seolah sama pentingnya dengan membahas kondisi darurat negara; genting dan penting. Mungkin kalau mau dibikin grafik atau rating oleh AC.Nielsen; hari-hari ini pembahas seputar piala dunia sepak bola jauh lebih banyak, tinimbang membicarakan harga beras, cabe.

Kalaupun saya tertarik menyaksikan tayangan berita sosio-politik itu sebatas agar saya tidak terlalu ketinggalan informasi; berita apa yang sedang ramai jadi topik utama, headline, tajuk utama (atau istilah lainnya) dalam media massa. Berita apa yang sedang hangat diangkat oleh media. Sebatas itu; sebatas ingin tahu tanpa bermaksud ingin mendalami dan menelaah laiknya seorang pengamat atau analis sosial. Sambil lalu, gampangannya. Saya tidak ingin larut dalam berita-berita tersebut. Saya menekan keinginan saya untuk tidak terus mengikutinya. Jika keinginan itu dituruti hanya akan membuat diri ini capek, menguras stamina, mengacak otak, mengikis psikologis, menuntut waktu, merangsang rasa penasaran. Terus semacam itu. Dan saya tidak siap untuk mengalami hal itu semua.

Jadi saya ingin tahu sedikit saja. Dengan modal yang sedikit tersebut saya dapat mengikuti pembicaraan bersama teman ketika pembicaraan menyangkut tema dari referensi media massa. Namun tidak selalu.

Saya tidak ingin larut dan menyuntuki berita-berita (sosio-politik ataupun gosip) tersebut. Saya tidak ingin kembali kecewa. Kecewa dengan hasil kupasan yang anti-klimaks. Saya merasa, mungkin juga kalian, banyak berita akhirnya menggantung; tidak jelas juntrungannya. Banyak kasus yang dibahas akhirnya tertutupi dan tergantikan dengan kasus yang lain, padahal kasus yang pertama belum tuntas dikupas.

Mungkin di bawah ini saya akan sebutkan sedikit kasus yang terkatung-katung itu.

Kasus pembunuhan Munir menguap begitu saja. Bahkan aktor intelektual (dalam salah satu rubrik di media Tokoh lebih cocok disebut intelectual author. Karena dia yang merencanakan dan memberikan instruksi di belakang meja, bukan pelaku/aktor di lapangan) dibalik pembunuhan tersebut tidak tertangkap. Kita dan masyarakat akhirnya terombang-ambing dalam pertanyaan; siapa dalang sesungguhnya?

Kasus Gayus Halomoan Lumbun juga mulai jarang terdengar lagi. Padahal beberapa waktu yang lalu berita tentang makelar kasus (saya tidak ingin menyingkatnya menjadi Markus. Kasihan orang yang punya nama Markus… selalu jadi kambing hitam. Lagi pula Markus, dalam agama Kristen, adalah orang suci) yang dilakukan mantan pegawai pajak dengan pangkat IIIA ini sempat membanjiri wajah semua media massa. Semua media massa berlomba-lomba mengabarkan, termasuk program tayangan yang biasanya mengupas gosip perselingkuhan selebritis, seperti Silet.

Saat Gayus tertangkap (ah.. pemerintah negeri jiran yang kecil itu tidak suka dan tidak mau dengan istilah itu) di Singapura, saya berharap akan mendapatkan kejutan-kejutan baru. Akan ada (banyak) petinggi-petinggi dari kepolisian, kejaksaan, kehakiman, dan dinas pajak yang ditangkap pula, karena nyambi menjadi makelar kasus. Perasaan saya (ah… itu ‘kan perasaanmu saja) Gayus hanya pemain kecil. Masa’ seorang Gayus yang pegawai rendahan dapat mem-blantik-i kasus besar secara mandiri-sendiri. Saya agak susah menangkap logika semacam itu; Gayus sebagai single fighter. Ada banyak pemain besar, yang tentunya pangkatnya juga jauh lebih tinggi dibanding Gayus, yang turut terlibat dalam praktek penyimpangan hukum tersebut.

Perihal kasus Susno Duadji dan Anggodo Wijoyo juga mulai mengambang. Bagaimana kasusnya? Sampai mana? Kasus penting semacam itu justru tergantikan dengan kasus video mesum yang pelakunya terduga (istilah terduga kata kalangan pers lebih cocok dibanding dengan istilah mirip) artis Ariel, Luna, dan Cut Tary atau kerap disingkat Lunatariel (bisa nih buat merek produk).

Belum kelar dan jelas bagaimana kasus Gayus, Susno, dan Anggodo masyarakat sudah disuguhi dengan berita baru itu. Sudah hampir empat minggu media massa sibuk memberitakan video mesum tersebut, dan (mungkin) melupakan kasus-kasus sebelumnya. Sedari pagi, siang, sore, dan malam masyarakat disuguhi dengan pemberitaan yang sepele dan sederhana semacam itu. Media massa berlomba-lomba mengeksplorasi (mungkin lebih cocok mengeksploitasi) secara habis-habisan. Bukannya tidak penting, namun dalam pemberitaannya yang tiada henti laiknya orang maraton itu  yang justru menciptakan teror bagi masyarakat. Alih-alih niatnya agar orang-orang tidak berbuat mesum, membuat video mesum, atau mengunduh dari internet dan menontonnya, justru “mengajarkan” orang-orang untuk mengunduh, menyimpan, menonton, dan saling berbagi. Akhirnya yang terjadi adalah membuat orang-orang penasaran untuk membicarakan dan menontonnya (di sini termasuk saya, tentunya).

Saya tidak tahu bagaimana akhir dari episode ini akan berakhir. Apakah akan mencapai klimaks atau tidak: saya tidak tahu.

Berita-berita tersebut seolah datang dan pergi begitu saja. Sekali lagi tanpa klimaks yang memuaskan: Author, aktor, atau tidak terlibat sama sekali!

Model penanganan dan pemberitaan kasus yang silih berganti laiknya hembusan angin memunculkan sepekulasi: KONSPIRASI! Jadi kasus-kasus baru dimunculkan untuk mengalihkan isu ataupun kasus-kasus yang lebih dulu ditangani. Tujuannya adalah untuk melindungi sebagian orang-orang yang terlibat. Siapa?  Benarkah? Wallahu a’lam.

[SUM-8425]