Sejak peristiwa hancurnya Gedung WTC Osama bin Laden dijadikan musuh bersama. Osama dianggap sebagai otak dibalik peristiwa kemanusiaan tersebut. Dan baru setelah 10 tahun berlalunya peristiwa yang menjadi kenangan paling buruk masyarakat Amerika dan Eropa akhirnya Osama bin Laden mati.
Antara Suka dan Meningkatnya Kecemasan
Bagi sebagian masyarakat kematian Osama adalah berita gembira. Hal ini menggambarkan bagaimana musuh yang selama ini telah menciptakan kekacauan/teror bagi masyarakat akhirnya dapat ditumpas. Mereka berharap kematiannya akan menghilangkan segala teror yang telah terjadi. Kehidupan akan berjalan sesuai dengan yang mereka inginkan.
Namun berbeda halnya dengan orag-orang yang berada dibelakang atau sepakat dengan pandangannya, justru ematia Osama akan membangkitkan perlawanan yang lebih sengit. Bahkan tidak sedikit yang berjanji akan melakukan balas terhadap Amerika dan para sekutunya. Teror akan semakin meningkat.
Siapa Osama?
Hal yang menarik adalah apa yang diungkapkan oleh dubes Iran, “Amerika menumpas bonekanya sendiri!”. Apa maksudnya?
Osama merupakan didikan Amerika saat perang perebutan pengaruh antara Amerika dan Uni Soviet di Afganistan. Uni Soviet mebela pmerintahan Afganistan yang saat itu berideologi Komunis, sedang Amerika membantu para milisi/pemberontak yang tidak meginginkan Afganistan sebagai negara Komunis. Di sini Amerika turut melatih dan menyuplai persenjataan kepaa para pemberontak tersebut, salah satunya adalah Osama bin Laden. Mengapa Osama bin Laden ikut berperang di Afganistan? Osama memang orang Arab, bukan warga Afganistan. Sepertihalnya Che Guevara dengan perang Latinnya, Osama adalah universal soldier. Dia dapat berangkat ke daerah (muslim) mana saja yang sedang berperang. Alasan sederhananya adalah bahwa membantu kaum muslimin yang sedang diperangi adalah wajib hukumnya. Di Afganistan dirinya mendapatkan alasannya. Afganistan yang negeri Muslim, tidak rela dipimpin oleh kaum Komunis.
Perang berakhir dengan kemenangan kaum milisi yang didukung oleh Amerika tersebut. Namun kemenangan tersebut menempatkan Taliban sebagai rezim yang berkuasa. Ketika Amerika membantu para milisi tersebut tentunya bukannya tanpa pamrih. Amerika ingin negara yang dibantunya sesuai dengan nilai-nilai yang Amerika anut: demokrasi! Salah satunya DEMOKRASI. Sayang Rezim Afganistan yang berkuasa tidak menginginkan hal tersebut. Mereka punya cara dan ideologinya sendiri untuk bangsa dan negaranya.
Nama Osama begitu mencuat setelah peristiwa yang dikenal dengan 911 tersebut. Apakah bnar-benar Osama yang melakukan peristiwa yang tidak beradab tersebut? Hingga detik ini tidak sedikit warga dunia yang menyangsikannya. Namun media massa telah melakukan borbardir terhadap masyarakat dunia, bahwa yang melakukannya adalah OSAMA bin LADEN!
Memang banyak video yang menggambarkan Osama yang sedang berpidato dengan mengutuki pemerintah Amerika dan sekutunya. Video tersebut menggambarkan bagaimana bencinya Osama terhadap Barat! Apakah benar pelakunya adalah Osama? Wallahu bish shawab.
Bisa jadi seperti yang dikatakan oleh dubes Iran tersebut benar. Bahwa Osama “dijadikan” boneka oleh Amerika untuk menakut-nakuti masyarakat dunia. Osama laiknya tokoh yang harus ada dalam sebuah sandiwara; ada protagonis dan antagonis. Dan ahkirnya tokoh yang menakut-takuti tersebut (antagonis) akhirnya mati oleh kehebatan Amerika (protagonis). Amerika tetap enjadi negara super power dan adikuasa yang menguasai dunia! Sehingga Amerika menjadi mitos pada kehidupan yang kosmopolitan.
Hayoo!
[gm-13c]


