h1

Presiden bukan hanya orang Jawa

1 Juli 2009

pemilu tahun ini bagi saya cukup menarik. meskipun saya tidak memilih atau golput. dalam kategori eep saefullah, saya mengkategorikan diri sebagai golput teknis.

hadirnya sosok JK sebagai calon presiden Indonesia merupakan buah dari majunya demokrasi yang terus digalakkan bangsa ini. apa lagi jika terpilih, itu akan menambah point dari proses politik kita.

mengapa saya sebutkan demikian. selama ini presiden kita berasal hanya dari kalnagan orang-2 jawa saja. di sini saya tidak berniat menjadi rasis. hanya sekadar mempertanyakan ulang demokrasi kita saja.  Baca entri selengkapnya »

h1

akh!

29 Mei 2009

Sudah berkali-kali jam itu berbunyi. Lelaki itu selalu melihat angka dan juga menghitung bunyinya. Sekadar memastikan. Sebenarnya tanpa melihat angka-angka itu, dentang yang ditimbulkan sudah cukup memberitahu: pukul berapa sekarang. Teng. Teng. Teng. Jam tiga. Pagi.

Lama-kelamaan lelaki itu merasa bunyi-bunyian itu menjelma sebuah ejekan yang menyesakkan. Pasalnya satu buah cerita pun belum terwujud, padahal sudah sekian lama ia duduk di depan komputer. Hanya termangu membisu di depan layarnya yang menyala serupa warna langit biru. Dia sadar betul sebentar lagi adzan shubuh berkumandang. Atau suara potongan bambu yang dipukul para penjual jagung malam yang bergegas pulang. Biasanya jam segitu udara dingin benar-benar datang, namun saat itu laki-laki itu justru merasakan gerah dengan pikirannya yang gelisah.  Baca entri selengkapnya »

h1

Tak Terkabulkan

10 Maret 2009

Sebenarnya aku tidak perlu merasa bersalah kepada laki-laki itu hanya karena aku tidak bisa memenuhi permintaannya: jangan menceritakan yang sebenarnya. Meskipun aku sudah berusaha melakukan sekuat daya. Setidaknya aku sudah membuat sekian rencana untuk melaksanakan apa yang dipinta. Aku tidak bisa mengelak. Rencana yang telah kususun dari kota retak-puak karena perempuan itu datang dengan mengiba dan tahu aku berdusta.

Sebenarnya aku juga tidak usah merasa berdosa ketika perempuan itu akhirnya menangis histeris setelah mendengar cerita yang dipintanya. Aku sudah berusaha menolak demikian nekad dengan coba mengarang kebohongan yang sekiranya lebih menyenangkan daripada kejujuran yang mengecewakan. Sayangnya aku tidak pandai merangkai kata yang dapat meyakinkan dirinya laiknya seorang salesman yang dapat memaksa tanpa membuat terluka pelanggannya. Aku ragu. Lidahku begitu kelu, gagu. Saat itu aku sangat tidak kuasa ketika perempuan itu mulai meneteskan air mata mengiba. “Kau terlalu lugu untuk jadi penipu!”, katanya menunjukku.
*** Baca entri selengkapnya »

h1

Lelaki Bersayap

10 Maret 2009

Bila sekarang aku berada di sini bersama mereka, dalam lingkaran kecil dengan lilin-lilin putih mungil yang nyala, itu karena aku pernah mengenal lelaki itu. Hanya mengenalnya. Cukup lama memang, tapi tidak pernah terlalu dekat. Kami belum sempat akrab untuk membicarakan banyak hal; agama, sosial, politik, ekonomi, sastra, budaya, drama, puisi, ataupun merek sabun mandi. Sebagaimana lelaki itu biasa bercakap dengan para sahabat-sahabatnya.   Baca entri selengkapnya »

h1

Berkaraoke di InulVista

18 Februari 2009

Kalau bukan karena voucher gratis, mungkin, aku tidak akan pernah pergi ke InulVista. Bukan karena aku anti dengan tempat hiburan semacam itu, tapi pertimbangan awal, terlalu sayang bila mengeluarkan uang segitu hanya sekadar untuk berkaraoke di sana. Maklum masih anak kost yang mengandalkan kerja sambilan-serabutan. Bulan ini tidak ada kerjaan. Dan mencoba menolaknya… kalau ada yang mau nawarin…hehehe. Mau coba konsentrasi dulu. Semoga bisa. Deposito, danareksa, dan Forex orang-orang masih ada. Hehehe. Baca entri selengkapnya »

h1

Babu

4 Januari 2009

Emak membaringkan tubuh tuanya di atas dipan yang beralaskan kasur kapuk yang telah menipis. Sudah berkali-kali matanya coba dipejamkan, tetap saja terjaga. Sedikit pun rasa kantuk tidak menyapa matanya. Padahal malam telah larut, sebentar lagi kokok ayam dan adzan shubuh terdengar. Justru resah dan gelisah yang semakin renyah menjalari dadanya yang kerempeng dan tipis dimakan usia. Malam itu adalah malam kesekian emak harus merasakan susahnya tidur. Sangat menyiksa. Berbeda dengan hari-hari biasanya. Baca entri selengkapnya »

h1

Catatan Natal Beberapa Tahun yang Lalu (Ada Ubi di Hari Natal)

27 Desember 2008

Aku tidak ingat lagi entah natal yang kapan. Bebera tahun yang lalu jelasnya. Masih di Denpasar juga. Karena aku ingin melihat umat kristiani misa, aku ikut temanku yang Katholik pergi ke Katedral di kawasan Renon. Supaya tidak terlambat kami berangkat ketika senja belum sepenuhnya gelap. Kami bertiga, tiga agama: Katholik, Protestan, dan Islam (aku). Dengan jalan kaki kami menyusuri jalan Banyusari, kemudian melintasi Waturenggong dan menyelami gang-gang kecil Ida Bagus Oka yang penuh dengan kos-kosan dan kesemrawutan penghuninya hingga Renon. Kami melewati jalan-jalan yang jarang kami lewat. Baca entri selengkapnya »

h1

Upaya Cermat Hidup Sehat

26 Desember 2008

Judul :
Smart Shopping Healhty Living: Tip & Trik Belanja dan Mengonsumsi Makanan

Penulis :
Nur Zakaria Munasir

Penerbit :
PT. RajaGrafindo Persada

Hal :
xviii + 144

Makan merupakan kebutuhan pokok semua makhluk hidup. Tidak terkecuali manusia. Sehingga proses regenerasi tetap terjaga sampai sekarang. Data sejarah kebudayaan menyatakan bahwa setiap peradaban memiliki fakta prosesi kebudayaannya sendiri dalam mempertahankan hidupnya. Misalnya pada masyarakat awal untuk mencukupi kebutuhan tersebut manusia harus berburu dan meramu. Kebudayaan berburu dan meramu menuntut mereka hidup secara nomaden, sampai akhirnya mereka hidup menetap yang memenuhi kebutuhannya dengan cara mempraktekkan pertanian; suatu prosesi yang cukup panjang. Baca entri selengkapnya »

h1

Lelaki Itu Mengingatkanku

26 Desember 2008

Lelaki itu mengingatkan aku: waktu begitu cepat berlalu. Cepat sebelum kau terlambat.

Lelaki itu mengatakannya pada senja setelah aku pulang kerja. Itu kesempatan pertama kami terasa lebih dekat dibanding hari-hari biasa. Itu juga karena lelaki itu mencegahku dengan sapaan yang lebih akrab daripada hari biasanya. Senyum tipis yang dilemparkan padaku terkesan dipaksakan. Kerutan-kerutan mukanya terlihat jelas. Seegois apapun seseorang pada titik kondisi tertentu ia akan coba peduli dengan orang lain. Seperti itu juga aku pada sebuah sore yang penuh rencana itu. Mungkin ini bukan masalah kepedulian, tapi hanya masalah kesempatan yang tidak dapat aku tolak. Kami harus terlibat dalam sebuah percakapan. Padahal tubuhku bau debu dan sengatan matahari. Tubuhnya bau obat-obatan yang tidak pernah aku suka. Aku perlu mandi agar segar kembali. Begitu juga dirinya.
Sebenarnya kami belum saling kenal secara formal. Aku tidak tahu siapa namanya, dan mungkin sebaliknya. Hanya lemparan senyum ataupun ucapan “hai” penuh basa-basi yang jadi tanda bahwa kami saling kenal. Saat berangkat kerja atau saat hendak mandi.  Baca entri selengkapnya »

h1

Calon Legislatif Ditentukan Suara Terbanyak

26 Desember 2008

Akhirnya MK mengeluarkan keputusan bahwa pemilihan calon legislatif ditentukan oleh suara terbanyak, bukan oleh nomer urut sebagaimana ada dalam undang-undang pemilu.

Bagi saya keputusan ini cukup baik. Karena dengan demikian pilihan masyarakat tidak lagi samar. Suara tersebut akan tetap menjadi milik suara yang terbanyak. Berbeda tentunya dengan sistem nomer urut; dalam sistem ini suara milik calon legislatif yang tidak memenuhi kuota jumlah pemilihan akan disumbangkan pada calon legislatif yang ada di urutan di atasnya, nomer jadi.
Baca entri selengkapnya »